Reaktivasi Jalur KA Rangkasbitung-Labuan: Kapan Realisasinya?


Pemerintah sejak tahun 2017 telah mengumumkan akan melakukan reaktivasi beberapa jalur kereta api yang sudah lama tidak digunakan alias mati. Salah satunya adalah jalur kereta api Rangkasbitung (Lebak) - Labuan (Pandeglang).

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengumumkan rencana reaktivasi rel mati Rangkasbitung-Labuan di Provinsi Banten sejak pertengahan November 2017. Rencana mengaktifkan kembali jalur kereta api ini juga sudah tercantum di dalam Dokumen Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Bidang Perkeretaapian tahun 2015-2019. 

Jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan adalah jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Labuan dengan Stasiun Rangkasbitung, Banten, termasuk dalam Wilayah Aset I Jakarta. Lintas ini dibangun pada tahun 1908 dan ditutup sejak tahun 1984 karena kalah bersaing dengan moda transportasi massal lainnya. Lintas kereta api sepanjang 56 km ini memiliki percabangan ke arah Bayah dari Stasiun Saketi.

Jalur ini, merupakan tahap awal rencana reaktivasi di kawasan Banten Selatan. Rel Rangkasbitung-Labuan melewati 6 stasiun yang kondisinya sekarang sudah hancur dan tinggal fondasi. Di atas rel juga ada yang di tempati pemukiman warga. 

Pekerjaan reaktivasi ini dimulai dengan penyelesaian dokumen perencanaan dan pembebasan lahan, untuk selanjutnya di periode akhir baru akan dimulai pembangunan fisik.

"Kami mulai dulu dengan penyelesaian dokumen perencanaan dan pembebasan lahan, untuk selanjutnya di periode akhir baru akan dimulai pembangunan fisik," kata Kepala Humas Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Eben Torsa (25/11/2018).

Proses ini juga masih panjang jika mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 112 Tahun 2017 tentang Pedoman Dan Proses Perencanaan Di Lingkungan Kementerian Perhubungan. Eben menyebutkan bahwa pembangunan ini harus melalui proses kajian kelayakan, kajian SID (Survey Investigasi Dasar), DED (Detail Engineering Design), kajian lingkungan hingga LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan).

Kepala Humas Balai Teknik Perkeretapian Wilayah Jakarta dan Banten, Kementerian Perhubungan, Samsuri, mengatakan pembebasan lahan ditargetkan bisa rampung akhir 2019. Lalu pada 2020, pembangunan akan dimulai pada segmen I yaitu Rangkasbitung-Pandeglang. "Sepanjang 18,7 kilometer," ujarnya. Pembangunan diharapkan selesai dalam dua tahun sehingga rampung pada 2022 (Tempo, 25/11/2018).

Sumber lain dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang mengatakan bahwa reaktivasi jalur kereta api mulai digarap awal 2019. Sesuai rencana, tahap awal akan dilakukan land clearing atau pembersihan tanah sekitar jalur kereta api. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pandeglang, Kurnia Satriawan memastikan, reaktivasi jalur kereta api mulai dikerjakan tahun depan.

Percepatan reaktivasi jalur tersebut untuk mengejar progres proyek strategis nasional untuk menopang pariwisata. Ia mengatakan, untuk tahap awal yang akan dikerjakan pembersihan tanah. Setelah itu sosialisasi dan detail engineering design (DED).

“Nanti kan tahun depan akan dilaksanakan pembersihan tanah dulu. Soal kebijakan terhadap pemilik rumah yang menempati jalur kereta api, itu ada kebijakannya dari Direktorat Jenderal kereta api. Nanti setelah ada DED akan ada sosialisasi kepada masyarakat,” kata Kepala Bappeda Pandeglang, Kurnia Satriawan (Kabar Banten, 14/12/2018).

Reaktivasi jalur kereta api ini dapat menopang kemajuan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat. Selain reaktivasi jalur kereta api, program nasional lainnya guna mendukung kemajuan Banten bagian Selatan adalah pembangunan Jalan Tol Serang-Rangkasbitung-Panimbang dan pembangunan Waduk Karian di Lebak.

Diharapkan dengan pembangunan ini, kesenjangan antara Banten bagian Utara dan Selatan dapat diminimalisir. Pergerakan perekonomian, barang dan manusia dapat lebih baik lagi antara Utara dan Selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

close