6 Cara Penerapan Lifelong Learning Yang Menyenangkan


Setiap manusia perlu untuk terus belajar dan belajar. Jaman terus bergerak, jangan sampai ketinggalan informasi dan keahlian yang diperlukan. Jangan sampai terlindas jaman. Pembelajaran terus menerus sepanjang hayat disebut juga dengan Lifelong Learning atau Continunous Learning. Belajar tanpa batas. Tujuan akhir dari Lifelong Learning adalah menjadi inovatif dan inklusif, meningkatkan fungsi otak, mendukung kesuksesan, dan pertumbuhan atau pengembangan diri.

Penerapan Lifelong Learning merupakan proses pembelajaran dan strategi pendidikan yang mengakui semua tempat pembelajaran berlangsung, baik di tempat kerja, di tengah masyarakat, dalam keluarga, dan di setiap kehidupan sosial kemasyarakatan yang melingkunginya.

Revolusi Industri 4.0 membawa kemajuan dari cara pembelajaran, proses pembelajaran dapat dilakukan dimana saja. Information and Communication Technology (ICT) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memberikan kesempatan luas bagi masyarakat untuk memperoleh informasi terkini, berinteraksi, beraktivitas, mengidentifikasi isu yang menjadi perhatian dan kepentingn bersama, menghasilkan pendapatan dengan peluang usaha yang luas, serta berpartisipasi dalam masyarakat secara masif.

UNESCO melalui program Lifelong Learning berupaya untuk memungkinkan semua orang di seluruh dunia dapat memanfaatkan potensi besar ICT untuk melakukan pembelajaran dan pemberdayaan diri.

Implementasi program Lifelong Learning ini dicapai melalui pelaksanaan 6 program, yaitu:
  • Literacy;
  • Technical and Vocational Education and Training (TVET);
  • Higher Education;
  • Open and Distance Learning;
  • ICT Applications for Non Formal Education;
  • 21st Century Skills.
Untuk itu, UNESCO membentuk UNESCO Institute for Lifelong Learning (UIL), bermarkas di Hamburg, Jerman, sebagai lembaga dan unit organisasi dalam PBB yang memegang mandat global untuk program Lifelong Learning. Melalui pendekatan holistik dan terpadu, UIL mempromosikan dan mendukung pembelajaran sepanjang hayat dengan fokus pada pembelajaran orang dewasa, pendidikan yang tanpa henti, literasi dan pendidikan dasar non formal. Kegiatan Lifelong Learning ditekankan pada pemerataan pendidikan bagi kelompok masyarakat yang kurang beruntung dan di negara-negara konflik.

Pembentukan UIL juga didasari oleh adanya risiko bahwa teknologi canggih dapat menyebabkan ekslusifitas sejumlah besar orang dari sistem komunikasi global yang baru. Hanya kelompok masyarakat dari golongan mampu saja yang dapat melakukan penetrasi ICT.

Namun, disadari bahwa masyarakat Indonesia sebagian besar masih malas melakukan aktivitas belajar. Salah satu indikatornya adalah rendahnya minat baca.

Berdasarkan laporan UNESCO tahun 2012, angka minat baca anak Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada 1 dari 1.000 orang yang memiliki minat baca serius. Penelitian lain, berdasarkan laporan Program for International Student Assessment (PISA) dari Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara. Responden berasal dari anak-anak sekolah usia 15 tahun dengan sampel sekitar 540 ribu orang.

Sedangkan hasil penelitian Central Connecticut State University (CCSU) pada Maret 2016, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia hanya unggul dari satu negara, yakni Botswana yang berada di dasar peringkat literasi tersebut. Tingkat literasi terbaik adalah Finlandia, disusul Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, AS, dan Jerman.

Itu baru satu indikator literasi atau minat baca, belum indikator-indikator lain.

Nah, sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukan perbaikan tingkat literasi Indonesia dengan cara Lifelong Learning. Bagaimana caranya agar proses pembelajaran sepanjang hayat ini menjadi menyenangkan, dilakukan banyak orang, termasuk anak-anak? Keberadaan smartphone dan TIK jangan hanya digunakan untuk media sosial, manfaatkanlah untuk mendukung proses pembelajaran.
Cara terkini agar proses pembelajaran menyenangkan adalah:

1. Membaca hal menarik.

Pilih buku apa saja yang menarik menurut diri sendiri. Buku disini dapat diperluas seperti majalah dan koran. Rutin membaca akan memberikan stimulus rasa keingintahuan. Tidak harus berat-berat dulu, cari yang bersifat menghibur seperti novel, kisah atau riwayat orang sukses, dan hal-hal positif lainnya. Hindari membaca bersifat negatif, membakar emosi, atau bahkan dapat menurunkan mental.

Novel bertema pengembangan dan motivasi diri, biasanya akan bersentuhan dengan nilai religius, dapat memberikan kesemangatan hidup. Kemudian membeli majalah khusus wanita, dekorasi rumah, dekorasi taman, cara berkebun, cara merawat mobil, dan lain sebagainya. Selain itu, dapat pula memanfaatkan aplikasi membaca daring (online) seperti Google Play Books, Whattpad, Amazon Kindle, dan NOOK.

2. Menonton video menarik dan menghibur.

Salah satu metode pembelajaran adalah dengan visual, salah satunya video. Terpopuler saat ini adalah Youtube sebagai kanal video yang bebas dinikmati banyak orang, kapan saja dan dimana saja. Manfaatkanlah, ditambah video popcast lainnya. Youtube banyak menyediakan sarana pembelajaran, seperti tutorial memasak, petunjuk melakukan sesuatu baik secara detail atau ringkas, kisah-kisah inspiratif, dan cara inovatif dalam kehidupan sehari-hari dengan memanfaatkan yang ada di sekitar kita. Pilih sesuai peminatan dan keperluan akan memberikan perasaan menyenangkan.

3. Mengikuti kelas keterampilan dan pengetahuan.

Ruang Guru (Ruang Keterampilan dan Skill Academy), Ngampooz, IndonesiaX, Coursera, Udemy, dan edX adalah contoh sarana pembelajaran secara daring. Kemajuan TIK memudahkan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ). Contoh di atas adalah aplikasi dalam negeri dan luar negeri yang menawarkan berbagai kursus atau pelatihan untuk pengembangan diri, berbayar dan gratis.

Kursus dan pelatihan tersebut ada yang membutuhkan waktu singkat, satu hingga tiga jam untuk menyelesaikannya. Ada juga yang menawarkan dengan jangka waktu lebih panjang, beberapa hari hingga hitungan pekan. Ada yang bersertifikat, ada yang tidak. Ada pula untuk mengikuti kelas dapat dilakukan secara gratis, tetapi tatkala dinyatakan selesai dan lulus dan ingin memperoleh sertifikat baru dilakukan pembayaran.

Selain kelas daring, tentunya keterampilan dan pengembangan diri diperoleh juga dengan cara mengikuti kelas keterampilan, seminar, pelatihan pengembangan diri, workshop, serta lokakarya dengan metode tatap muka (klasikal).

4. Bergabung dengan komunitas untuk berdiskusi.

Komunitas disini jangan hanya diartikan sebagai komunitas tetap dan terstruktur, seperti ikatan alumni, himpunan masyarakat, atau organisasi, baik secara daring maupun luring (offline). Komunitas juga diperoleh dengan bergabung dalam grup di media sosial, seperti Whatsapp Group dan Facebook Group. Mengikuti Focus Group Discussion (FGD) secara tatap muka akan menjadi pengalaman yang berharga. Bergabunglah sesuai peminatan, latar belakang, hal-hal menarik, terutama grup yang memiliki nuansa diskusi yang kuat. Bangun budaya diskusi konstruktif dalam grup tersebut.

Berdiskusi akan memperluas wawasan dan memperoleh informasi dari sudut pandang yang berbeda. Interaksi dalam diskusi memberikan rasa saling menghargai, memahami karakter seseorang, belajar dari pengalaman orang lain, serta memberikan kemampuan diri untuk mengungkapkan pendapat.

5. Mencari solusi atas pengalaman.

Perjalanan hidup tidaklah mendatar, penuh dengan cobaan, kadang senang kadang duka. Mengambil hikmah dari setiap kejadian akan menjadi solutif, belajar dari pengalaman dan terus belajar memperbaikinya menjadi titik terang dalam hidup.

Untuk itu, peningkatan kemampuan dan pengembangan diri menjadi cara solutif atas hambatan dalam hidup. Pengalaman menjadi guru terbaik. Tidak pantang menyerah. Kemampuan diri akan membentuk kepercayaan diri.

6. Menulislah.

Anggapan menulis itu susah harus dipatahkan, toh ternyata setiap individu yang memiliki smartphone pasti sudah biasa menulis. Menulis status, berkomunikasi dengan orang lain dengan pesan singkat, dan membuat laporan kepada pimpinan adalah sedikit contoh bahwa kebiasaan menulis itu sudah ada. Persoalannya adalah, apakah tulisan tersebut membawa nilai positif atau malah keburukan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Status atau tulisan yang baik tentunya yang dapat memberikan nilai lebih. Posting cerita telah mengunjungi pantai, tentang cara menuju kesananya, ongkos yang dikeluarkan, keindahan suasana, dan menceritakan fasilitas yang tersedia akan memberikan penilaian. Seorang sahabat tentu bisa menanyakan secara lebih rinci bila ingin ke tempat yang sama.

Hasil dari tulisan singkat di media sosial dapat dikembangkan lebih jauh. Manfaatkan platform blog, wattpad, storial.co, steller, atau jotterpad.

Ayo, belajarlah tiada henti untuk hidup lebih bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

close