Apakah Indonesia Mulai Menerapkan Herd Immunity?


Wabah pandemi virus corona (COVID-19) telah banyak memberikan pembelajaran berharga bagi manusia. Istilah-istilah kesehatan mulai banyak dikenal masyarakat dalam rangka penanggulangan penyebaran maupun hal yang berkaitan baik langsung maupun tidak langsung.

Lockdown, rapid test, social distancing, physical distancing, cabin fever, dan herd immunity adalah beberapa istilah yang mulai akrab di dengar masyarakat.

Istilah herd immunity mulai bergaung di awal pandemi mewabah dunia, pro kontra mewarnai bila cara penanganan untuk menekan penyebaran virus corona dengan cara ini.

Pemerintah Inggris sempat mengeluarkan pernyataan akan menggunakan strategi itu, meskipun setelahnya mereka meralatnya dan mengatakan hal itu bukanlah strategi pemerintah (Kompas, 04/04/2020).

Awal Mei 2020, istilah herd immunity menjadi trending kembali di Indonesia. Asal muasalnya adalah kebijakan Pemerintah Indonesia mulai dilakukannya relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), salah satunya yaitu terbitnya Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 dari Kementerian Perhubungan.

Baca Juga: COVID-19: Indonesia Memasuki Kehidupan "The New Normal"

Selain itu, seperti dilansir oleh detik.com, Pemerintah Indonesia saat ini tengah mencari titik keseimbangan agar masyarakat tidak banyak terpapar virus Corona dan juga tidak terpapar PHK. Salah satunya dengan mempersilahkan masyarakat berusia 45 tahun ke bawah untuk beraktivitas kembali. Hal ini untuk menekan dampak ekonomi yang lebih luas.

"Kelompok ini tentunya kita berikan ruang untuk bisa beraktivitas lebih banyak lagi, sehingga potensi terkapar karena PHK akan bisa kita kurangi," kata Kepala BNPB yang juga Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo dalam konferensi pers virtual, Senin (11/05/2020).

Kelompok muda usia di bawah 45 tahun memiliki fisik yang sehat. Kalaupun terpapar corona, kata Doni, mereka cenderung tidak memilliki gejala.

"Mereka adalah secara fisik sehat, mereka punya mobilitas yang tinggi, dan rata-rata kalau toh mereka terpapar, mereka belum tentu sakit. Mereka tidak ada gejala," ucapnya.

Doni menjelaskan kondisi ini berbeda dengan kelompok rentan berusia 60 tahun keatas yang memiliki risiko kematian hingga 45 persen. Kemudian, kelompok umur 46 -59 tahun namun memiliki penyakit comurbid seperti hipertensi, diabetes, hingga jantung.

"Kita tetap menjaga masyarakat untuk tidak terpapar virus corona tetapi juga kita harus berjuang secara keras agar masyarakat tidak terpapar PHK. Sebagaimana doktrin dalam menangani bencana mengatasi bencana tidak boleh menimbulkan bencana baru," sambung Doni.

Namun Doni mengingatkan, untuk memulai pola hidup baru tetap harus memprioritaskan protokol kesehatan. Dia menyarankan agar masyarakat tetap melakukan jaga jarak, menggunakan masker dan selalu cuci tangan.

"Apabila ini semua sudah bisa dipahami seluruh masyarakat maka diharapkan bangsa kita bisa memulai kehidupan dengan new normal," tutupnya.


Mengenal Herd Immunity

Herd immunity atau kekebalan kelompok adalah kondisi ketika sebagian besar orang dalam suatu kelompok telah memiliki kekebalan terhadap penyakit infeksi tertentu. Semakin banyak orang yang kebal terhadap suatu penyakit, semakin sulit bagi penyakit tersebut untuk menyebar karena tidak banyak orang yang dapat terinfeksi.

Dilansir sehatq.com (29/03/2020), Virus apapun butuh inang atau tempat tinggal untuk bertahan hidup. Manusia maupun hewan bisa menjadi inangnya. Termasuk SARS-COV-2 yang merupakan virus penyebab COVID-19. Jika virus ini tidak bisa memasuki tubuh manusia, maka ia lama-kelamaan akan mati karena tidak bisa bertahan lama berada di udara terbuka.

Jika ada cukup banyak orang dalam satu komunitas memiliki kekebalan terhadap suatu virus, maka virus tersebut akan hilang. Herd immunity sebenarnya adalah konsep yang penting dijalani agar orang-orang yang sehat, bisa melindungi orang lain di sekitarnya yang imunnya tidak bagus atau yang tidak bisa menerima vaksin karena ada gangguan kesehatan tertentu.

Dikutib dari Business Insider (20/3/2020), untuk membatasi penyebaran campak misalnya, para ahli memperkirakan 93-95 persen dari populasi perlu kebal. Campak lebih menular daripada virus corona baru atau COVID-19. Para ahli memperkirakan untuk menghentikan penyebaran virus corona perlu kekebalan sebanyak 40-70 persen dari populasi. Sementara itu herd immunity juga bisa dihentikan dengan vaksinasi. Sayangnya saat ini belum tersedia vaksin untuk virus corona.

Resikonya, dengan membuat banyak orang terinfeksi, kemungkinan meningkatnya angka kematian juga tinggi. Apalagi orang tua atau orang dengan  kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, seperti diabetes atau kanker paru-paru rentan terinfeksi oleh virus corona.

Ya, pemerintah berencana akan merelaksasi PSBB dengan memberi kesempatan usia produktif untuk bekerja, tetapi dengan tetap dalam kondisi PSBB, yaitu mematuhi protokol kesehatan. Semoga wabah ini cepat berlalu dan masyarakat dihimbau untuk tetap menjaga kesehatan diri dan lingkungan dalam rangka meningkatkan imunnitas diri, walau iuran BPJS dinaikkan kembali.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

close