Merawat Pemikiran Presiden Pertama RI Sukarno


Perdebatan Hari Lahir Pancasila

Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni setiap tahunnya selalu hangat dibicarakan. Sejak ditetapkan oleh Presiden Jokowi melalui Perpres Nomor 24 Tahun 2016, peringatan rumusan dasar negara Indonesia ini selalu menuai perdebatan, mengapa tanggal 1 Juni yang di pilih, kenapa bukan tanggal lainnya seperti 22 Juni pada saat naskah Piagam Jakarta, atau 18 Agustus 1945 saat rumusan final oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

“Beberapa waktu lalu, Pakar Hukum Tata Negara Refli Harun menyatakan, Pancasila tidak lahir 1 Juni, melainkan 18 Agustus. Justru ditetapkannya 1 Juni mengkerdilkan peran tokoh-tokoh bangsa lainnya. Hal ini sama dengan pernyataan Nugroho Notosusanto 30an tahun sebelumnya, di tulis oleh Harian Sinar Harapan,” ungkap JJ Rizal, Sejarawan dan Pendiri Komunitas Bambu.

Sejarah rumusan Pancasila pada masa orde baru didasarkan pada penelusuran Nugroho Notosusanto yang ditulis dalam bukunya Naskah Proklamasi jang Otentik dan Rumusan Pancasila jang Otentik. Nugroho adalah Kepala Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1974-1983.


JJ Rizal berdalih, benar bahwa 18 Agustus adalah penetapan Pancasila sebagai dasar negara, resmi lahir ketika PPKI (Panitia Persipan Kemerdekaan Indonesia) mengesahkan konstitusi negara, UUD 1945, dimana tercantum Pancasila dalam Pembukaannya. Namun, itu hanyalah pengembangan atau penyempurnaan ide dari pemikiran Sukarno 1 Juni 1945 di hadapan sidang Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia-BPUPKI). Ketika itu, rumusan silanya belum seperti yang berlaku sekarang. Bung Karno menawarkan lima sila yang terdiri dari Kebangsaan Indonesia; Internasionalisme atau Perikemanusiaan; Mufakat atau Demokrasi; Kesejahteraan Sosial; dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Hal ini diungkapnya tatkala menjadi narasumber pada Seminar Merawat Pemikiran Bung Besar dengan tema Sukarno di Mata Mereka (27/07/2020). Seminar daring ini diselenggarakan oleh Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Selain JJ Rizal yang membahas mengenai "Sukarno sebagai Penggali Pancasila", seminar juga menghadirkan Yuke Ardhiati seorang arsitek dan dosen Universitas pancasila dengan materi "Dunia Arsitektur dan Sukarno".

Pemateri selanjutnya adalah Citra Smara Dewi, seorang dosen IKJ dan kurator seni rupa, mengangkat tajuk "Sukarno dan Seni Rupa". Terakhir tajuk "Geliat Politik Sukarno Muda" disampaikan oleh dosen Binus University Malang dan Founder dan Pimpinan Redaksi Heuristik.id Faishal Hilmy Maulida.


Sukarno Tokoh Inspirasi Arsitektur Indonesia

Yuke Ardhiati menyatakan bahwa Sukarno adalah tokoh inspirasi, walau pun karya arsitekturnya dikatakan sebagai proyek mercusuar pada masa itu, Sukarno tetap jalan terus untuk tetap berkarya. Kini kita masih dapat saksikan karya fenomentalnya. Baik karya langsung maupun ide arsitekturnya. Masjid Istiqlal, Tugu Monumen Nasional (Monas), Monumen Selamat Datang, Stadion Utama Gelora Bung Karno, dan Gedung DPR/MPR menjadi icon kebanggaan Indonesia hingga kini.

"Indonesia tak akan merdeka. Bila, Bung Karno hanya menjadi Arsitek!" jelas Yuke. 

Yuke menjelaskan pernyataan di atas yakni pertama, sebagai wujud kesyukuran masyarakat Indonesia bahwa Bung Karno bukan hanya jadi arsitek ansich (doang). Kedua, mengingatkan adanya derajat yang lebih mulia bila ia berperan melampui kerja arsitek, dan ketiga, ternyata Bung Karno bukan arsitek, an sich. Ketokohan Bung Karno melampui profesi Arsitek. Karenanya, tentulah para Arsitek Indonesia ‘menjadi bangga’ telah memiliki Bung Karno, seorang Arsitek sekaligus Pejuang Kemerdekaan yang memiliki kegeniusan intelektual di atas rata-rata. 

Hal menarik dari mentalite arsitek Bung Karno atau proses kreatif dalam merancang yaitu kebiasaan sejak usia muda, budaya jawa, budaya multikultur, jiwa artis dan perasaan, serta bakat seni dan ketajaman visual.

Peran Sukarno dalam pembentukan Lembaga Kebudayaan Bidang Seni Rupa

"Sukarno, adalah tokoh yang luar biasa, selain arsitektur berperan juga dalam pengembangan seni rupa, seperti membangun galeri nasional. Pembangunan bidang kebudayaan oleh Sukarno seperti pendidikan kesenian, fasilitas seni budaya sebagai wadah kreativitas, ekspresi dan identitas (lembaga kebudayaan), dan sumber daya manusia seniman," papar Citra Smara Dewi. 

Sukarno juga berperan besar dalam kelahiran Lembaga Kebudayaan bidang Seni Rupa. Ditandai dengan adanya instruksi pembelian sejumlah lukisan untuk museum kesenian pada 1946. Kemudian terbit TAP MPRS 1962 tentang Wisma Seni Nasional. Baru pada tahun 1998 Galeri Nasional Indonesia lahir.

Selain itu, Bung Karno sangat terkesan setelah mengunjungi Museum Seni Lukis Tryetyakovskaya tahun 1956 di Moskow, dan menginginkan dibangunnya National Gallery of Art menyerupai Museum Seni Lukis Tryetyakovskaya. 

"Pertanyaannya adalah, mengapa pembangunan galeri nasional Indonesia membutuhkan waktu begitu lama, perlu 50 tahun?" tutup Citra.


Perjuangan dan Pemikiran Sukarno sangat dipengaruhi oleh Lingkungan Keluarga dan Masa Mudanya
 
Lahir dari lingkungan keluarga heterogen memberikan makna tersendiri bagi Sukarno. Dilahirkan dari keluarga berlatar belakang suku bangsa dan agama yang berbeda pada 6 Juni 1901. Ayahnya Raden Sukemi Sosrodihardjo merupakan seorang priyayi Jawa tulen, sedangkan ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai merupakan sosok penganut Hindhu dan berdarah Biru dari Bali. 

"Sukarno telah menyerap kemajemukan moral dari pandangan-pandangan mengenai penguasa yang adil dan masyarakat yang selaras dan tertib. Melalui wayang sebagai kebudayaan tradisional jawa, Sukarno menyerap segi filsasat Jawa dari kakek-neneknya di Tulungagung, dari ayahnya di Mojokerto dan sosok Wagiman," ujar Faishal Hilmy Maulida.

Selain itu, Sukarno muda telah banyak bersinggungan dengan tokoh dari berbagai aliran. Sukarno berkenalan dengan tokoh aliran marxisme seperti  C. Hartogh yang mengajar Bahasa Jerman di HBS Surabaya, kemudian H. Sneevliet, Adolf Baars.

"Tokoh beraliran sosialis kiri, antara lain Alimin, Musso, Semaoen dan Dharsono. Tokoh nasionalis sekuler seperti E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara. Sedangkan dari tokoh militan Islam yaitu Haji Agus Salim," tutup Faishal.

Materi video seminar dapat dilihat pada laman Museum Kebangkitan Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

close