Integrasi Pendidikan Bela Negara Dan Komponen Cadangan Dengan Resimen Mahasiswa

Foto: Pelantikan dan Pembaretan Anggota Resimen Mahasiswa Mahabanten, bertempat di Makodim 0603 Rangkasbitung, Lebak, 14 November 2019.

Belum lama ini jagat media diramaikan dengan wacana pendidikan bela negara melalui pendidikan militer bagi mahasiswa. Muasalnya adalah saat Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menjajaki kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk merekrut mahasiswa terlibat dalam latihan militer melalui program bela negara.

Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan bahwa implementasi program bela negara masih dalam tahap pembahasan dengan Kemendikbud. Direncanakan program bela negara akan digabungkan dengan program Merdeka Belajar. Mahasiswa dapat mengambil satu kegiatan untuk belajar tentang bela negara. Program ini tidak bersifat wajib alias sukarela, mahasiswa mempunyai pilihan untuk ikut program ini atau tidak.

Diharapkan nantinya bagi mahasiswa yang menyatakan diri ikut program bela negara, dapat ikut pendidikan militer selama satu semester dan nilainya dimasukkan ke dalam SKS yang diambil. 


"Nanti, dalam satu semester, mereka bisa ikut pendidikan militer, nilainya dimasukkan ke dalam SKS yang diambil. Ini salah satu yang sedang kita diskusikan dengan Kemendikbud untuk dijalankan," ujar Trenggono dalam keterangan tertulis, Minggu (16/8/2020).

Lebih lanjut Trenggono menyampaikan bahwa program ini merupakan upaya pemerintah agar generasi muda atau milineal tak hanya hanya kreatif dan inovatif, tetapi juga cinta bangsa dan negara dalam kehidupan sehari-hari. Kecintaan generasi milenial terhadap negara juga bisa ditunjukkan dengan bergabung dalam komponen cadangan (komcad).

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional Untuk Pertahanan Negara

Langkah Kemenhan dengan Kemendikbud sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional Untuk Pertahanan Negara. Pasal 8 ayat (1) UU 23/2019 menyebutkan bahwa Pembinaan Kesadaran Bela Negara lingkup pendidikan dilaksanakan melalui sistem pendidikan nasional. Pada ayat (3) dipertegas bahwa pembinaan kesadaran bela negara melalui pendidikan nasional dilaksanakan oleh Menteri (Pertahanan) bekerja sama dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan (Mendikbud).

Dalam upaya pertahanan negara, terdapat komponen utama yaitu Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang siap digunakan kapan saja dan dimana saja. Selain itu, guna memperbesar dan memperkuat kekuatan dan kemampuan komponen utama maka dibentuk komponen cadangan. Komponen cadangan dibentuk melalui pelatihan dasar kemiliteran sesuai dengan syarat dan kriteria tertentu.

Selain komponen utama dan komponen cadangan, dalam sistem pertahanan negara dikenal juga komponen pendukung. Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 menyebutkan bahwa komponen pendukung terdiri atas warga negara, sumber daya alam, sumber daya buatan, dan sarana dan prasarana nasional. Pada ayat (2) dijelaskan bahwa komponen pendukung merupakan salah satu wadah keikutsertaan warga negara secara sukarela dan pemanfaatan sumber daya alam. sumber daya buatan, serta sarana dan prasarana nasional dalam usaha penyelenggaraan pertahanan negara.

Komponen pendukung ini dapat digunakan secara langsung maupun tidak langsung untuk menghadapi ancaman militer dan ancaman hibrida. Komponen pendukung terdiri atas:
  • Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia;
  • Warga Terlatih;
  • Tenaga Ahli; dan
  • Warga lainnya unsur warga negara.
Pengertian warga terlatih adalah warga negara yang terlatih dan terorganisasi dalam lembaga pemerintah atau lembaga non pemerintah sesuai dengan kebutuhan dan tujuan organisasi yang siap menjadi komponen pertahanan negara. Warga terlatih meliputi antara lain:
  • purnawirawan TNI/POLRI;
  • anggota resimen mahasiswa;
  • anggota satuan polisi pamong praja;
  • anggota polisi khusus;
  • anggota satuan pengamanan;
  • anggota perlindungan masyarakat; dan
  • anggota organisasi kemasyarakatan lain yang dapat dipersamakan dengan warga terlatih.  
Baca Juga: Satmenwa Sekolah Tinggi Pesantren Darunna'im Menggelar Seminar Kebangsaan

Pendidikan Militer Bagi Mahasiswa

Pendidikan militer bagi sebagian mahasiswa sudah tidak aneh hingga saat ini. Pendidikan militer secara terbatas terus berlangsung melalui rekrutmen anggota Resimen Mahasiswa. Perguruan tinggi dimana terdapat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Resimen Mahasiswa (Menwa), maka pendidikan militer dilakukan untuk merekrut anggota menwa baru setiap tahun ajaran baru bagi mahasiswa baru atau masih di semester-semester awal. Dilakukan bekerja sama dengan komando teritorial TNI maupun lembaga pendidikan dan pelatihan TNI.

Eksistensi Menwa diperkuat dengan terbentuknya Komando Nasional (Konas) Menwa Indonesia dan Komando Resimen Mahasiswa (Komenwa) di 34 provinsi. Komenwa membawahi satuan-satuan Menwa yang ada di kampus-kampus. Pendidikan militer dalam merekrut anggota Menwa dilakukan oleh Komenwa berkoordinasi dengan Komando Teritorial TNI dan/atau Komando Pendidikan dan Pelatihan (Kodiklat) TNI setempat.

Pesan yang ingin disampaikan adalah, bahwa pendidikan militer bagi mahasiswa bukan barang baru. Setiap tahun, Komenwa Mahabanten Provinsi Banten menyelenggarakan Pendidikan Dasar (Diksar) Menwa melalui pendidikan militer dalam merekrut anggota baru, diikuti beberapa UKM Perguruan Tinggi yang ada di Banten seperti Universitas Islan Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) Serang, STKIP Setia Budhi Rangkasbitung, Universitas Bina Bangsa (UNIBA) Serang, dan Sekolah Tinggi Pesantren Darunna'im (STPDN) Rangkasbitung. 

Menwa adalah cikal bakal komponen cadangan. Telah disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 Menwa adalah komponen pendukung dari sistem pertahanan negara, oleh karena itu sangat mungkin kemampuan anggota menwa ditingkatkan menjadi komponen cadangan.

Beasiswa dan Penguatan Resimen Mahasiswa

Pasca reformasi, dalam merekrut anggota Menwa melalui Diksar, sumber pembiayaan mengandalkan anggaran UKM perguruan tinggi, individu, dan sumbangan para senior Menwa. Diharapkan melalui program pendidikan bela negara sebagaimana disampaikan oleh Kemenhan menjadi bahan penguatan UKM Menwa. Program bela negara dapat diintegrasikan melalui program UKM Menwa. 

Selain itu, bercermin dengan program Reserve Officers Training Corps (ROTC) Amerika Serikat (AS), mahasiswa yang secara sukarela mengikuti pendidikan militer melalui program bela negara dapat pula diberikan beasiswa. Beasiswa diberikan selama mahasiswa tersebut mengikuti program militer, atau selama tergabung dalam komponen cadangan. Selama mengikuti program militer/komponen cadangan, mahasiswa tetap mengikuti perkuliahan seperti mahasiswa lainnya, tetapi juga menerima pelatihan dasar kemiliteran dan pelatihan lainnya di sekitar kampus. 


ROTC adalah program pelatihan perwira berbasis perguruan tinggi untuk pelatihan perwira dalam penugasan di angkatan bersenjata AS. Personel ROTC diperuntukkan bagi semua cabang angkatan bersenjata AS. Program ilmu militer ini mengembangkan dan menanamkan keterampilan yang diperlukan untuk memimpin tentara AS. Di bawah program ROTC, mahasiswa dapat menerima pendidikan yang kompetitif dan beasiswa berdasarkan prestasi meliputi seluruh atau sebagian dari biaya kuliah, dengan imbalan kewajiban dinas militer aktif setelah lulus.

Epilog


Pro kontra pendidikan militer di kampus itu biasa, kenyataannya pendidikan militer bagi mahasiswa sudah ada hingga saat ini. Melalui Menwa pendidikan militer secara terbatas tetap berlangsung di perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Kemenhan dapat menyelenggarakan program bela negara melalui integrasi program dengan Menwa, bahkan untuk program pembentukan komponen cadangan.

ROTC telah melahirkan kebanggaan dan tradisi bagi mahasiswa dalam bela negara dan kepemimpinan. ROTC saat ini telah menjadi sumber kepemimpinan nasional di AS, karena eksistensinya sangat jelas, pola pelatihannya terpadu dan terarah untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi terbaik yang dibekali kepemimpinan dan keahlian di bidangnya. Kenapa tidak dengan Menwa Indonesia?

Peminatan mahasiswa untuk mengikuti program bela negara melalui Menwa ini akan semakin tinggi bila ditambah dengan program beasiswa. Akhirnya, baik sebagai komponen pendukung maupun ditingkatkan menjadi komponen cadangan, Menwa akan hadir sebagai garda terdepan dalam mendukung pertahanan negara.


Oleh:
Massaputro Delly TP., Penulis adalah Kepala Staf Resimen Mahasiswa Mahabanten dan penulis buku "Mengenal (Kembali) Resimen Mahasiswa".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

close