PSBB September Belum Banyak Merubah Mobilitas Masyarakat Jakarta

Pergerakan masyarakat Jakarta akibat COVID-19 saat berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat ini, dimana Pemerintah DKI Jakarta memberlakukan pengetatan kembali akibat makin tingginya kasus terkonfirmasi positif virus corona, cenderung meningkat dari bulan Juli dan Agustus 2020.

Merujuk Laporan Mobilitas Masyarakat Selama Pandemi COVID-19, di Jakarta warga yang melakukan perjalanan dengan tujuan retail dan rekreasi pada 11 September 2020 mencapai minus 10 persen dibandingkan dasar pengukuran. Data ini menunjukkan peningkatan mobilitas warga sejak 31 Juli 2020 (lihat gambar). Tren retail dan rekreasi merupakan tren mobilitas untuk tempat-tempat seperti restoran, kafe, pusat perbelanjaan, taman hiburan, museum, perpustakaan, dan bioskop.

Hal yang sama juga terjadi pada kunjungan warga ke taman, minus 47 persen dibandingkan dasar pengukuran dan terjadi penigkatan dibandingkan pada 31 Juli 2020. Tren ini mengukur mobilitas untuk tempat-tempat seperti taman nasional, pantai umum, dermaga, taman hewan peliharaan, lapangan terbuka, dan taman umum.



Berdasarkan data di atas, apakah pemberlakukan PSBB secara ketat kembali telah dapat merubah perilaku masyarakat dalam melakukan pergerakan atau mobilitas? Ternyata tidak!

Sedangkan mobilitas masyarakat dengan tujuan toko bahan makanan dan apotek, pusat transportasi umum, tempat kerja, dan area permukiman relatif stabil dari bulan-bulan sebelumnya.

Secara nasional, peningkatan tren warga Indonesia untuk mengunjungi tempat retail dan rekreasi mengalami peningkatan 2 persen dibandingkan dasar pengukuran. Artinya, wabah pandemi virus corona masih berlangsung namun masyarakat Indonesia tetap melakukan aktivitas luar ruang, berkunjung ke tempat-tempat retail dan rekreasi.

Hari Sabtu (19/09/2020) menjadi rekor kasus terkonfirmasi positif COVID-19 per hari di Indonesia, dengan dilaporkannya sebanyak 4.168 kasus terkonfirmasi. Sejak dilaporkannya kasus pertama pada bulan Maret 2020, ini adalah kasus terkonfirmasi harian tertinggi. Wabah belum mereda di Indonesia dan dunia, malah cenderung meningkat penyebarannya. 

Tentunya ini menjadi perhatian kita semua, tidak hanya mengandalkan peran pemerintah tetapi sebagai warga tetap abai dengan anjuran pemerintah. Bila tidak penting sekali, tetap di rumah saja, tidak keluar rumah dan melakukan perjalanan ke luar pusat-pusat keramaian sehingga menimbulkan kerumunan. Ayo stop penyebaran COVID-19 dengan melakukan 3M, Mengunakan Masker bila ke luar rumah dan jangan dibuka, Menjaga jarak minimal 1,5 meter, serta sering-sering Mencuci tangan dengan air sabun. Hindari menyeka wajah dengan tangan kosong/polos!

Apa itu Laporan Mobilitas Masyarakat?

Laporan Mobilitas Masyarakat diterbitkan oleh Google. Laporan Mobilitas Masyarakat bertujuan untuk memberikan analisis mengenai perubahan apa saja yang terjadi akibat penerapan kebijakan untuk melawan COVID-19. Laporan ini memetakan berbagai tren pergerakan dari waktu ke waktu berdasarkan geografi, di berbagai kategori tempat seperti retail dan rekreasi, toko bahan makanan dan apotek, taman, pusat transportasi umum, tempat kerja, dan area permukiman.


Laporan Mobilitas Masyarakat menunjukkan tren pergerakan menurut wilayah, di berbagai kategori tempat. Untuk setiap kategori di suatu wilayah, laporan menunjukkan perubahan dalam 2 (dua) cara yang berbeda:
  • Jumlah utama: Membandingkan mobilitas antara tanggal laporan dan hari dasar pengukuran. Dihitung untuk tanggal laporan (kecuali terdapat kesenjangan) dan dilaporkan sebagai persentase positif atau negatif.
  • Grafik tren: Perubahan persentase dalam 6 minggu sebelum tanggal laporan. Ditampilkan sebagai grafik.
Informasi identitas pribadi seperti lokasi, kontak, atau pergerakan individu tidak akan tersedia dengan cara apa pun. Laporan ini dibuat dengan kumpulan data yang digabungkan dan dianonimkan dari pengguna yang mengaktifkan setelan Histori Lokasi, yang secara default dinonaktifkan.

Set data ini ditujukan untuk membantu proses remediasi dampak COVID-19. Set data ini tidak boleh digunakan untuk tujuan diagnosis, prognosis, atau perawatan kesehatan. Set data ini juga tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai panduan rencana perjalanan pribadi. Data menunjukkan perubahan kunjungan ke berbagai tempat, seperti toko bahan makanan dan taman, di setiap wilayah geografis. 

6 komentar:

  1. Kalau dilihat secara nyata, psbb sepertinya tidak menyebablan penurunan mobilitas masyarakat. Masyarakat masih tetap beraktifitas sebagaimana biasanya, di daerah saya pun masih dapat dengan mudah ditemui masyarakat beraktifitas secara normal. Bedanya cuma kebanyakan semuanya pakai masker sekarang sih 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bila aktivitasnya diikuti dengan protokol kesehatan sih bagus, kenyataan tren terpapar covid19 terus meningkat dan masyarakat seakan tiada peduli lagi bahwa wabah masih nyata adanya.

      Hapus
  2. Sedih sih ya sama keadaan kita sekarang, belum ada titik terang Pandemi ini bakal kapan berakhir. Saya sebagai orang yang tinggal di daerah merasa jadi bagian yang sangat kecil ketika memilih di rumah saja. Di jalanan, di pasar dan dimana-mana masih tetap orang beraktivitas seperti biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, selama vaksin belum ditemukan lebih baik menjaga diri sendiri dan lingkungan terdekat. Sulitnya disini antara menjaga kesehatan dan produktivitas, semoga badai cepat berlalu ...

      Hapus
  3. Semenjak pandemi ini melanda dunia, ruang gerak kita terbatasi. Entah sampai kapan pandemi ini berakhir, yg pasti Kesadaran masyarakat akan bahayanya Covid-19 sangat penting. Termasuk mematuhi anjuran pemerintah untuk mematuhi protokol kesehatan

    BalasHapus

close