Rendahnya Tes COVID-19, Apakah Menjadi Bom Waktu Bagi Indonesia?

Belum Ada Gelombang Kedua

Kasus terkonfirmasi COVID-19 atau virus corona di Indonesia masih terus meningkat, hingga kini belum ada tanda-tanda penurunan dari ditemukannya kasus pertama pada bulan Maret 2020. Apalagi sejak dilakukannya relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dilakukan pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.

Hingga hari ini (15/09/2020), kasus terkonfirmasi harian tertinggi pada 10 September dengan 3.861 kasus. Lihat saja grafik berikut ini, belum ada tanda-tanda melandai. Grafik dikutip pada laman worldometers.info.

Wajar saja akhirnya Gubenur DKI Jakarta menarik rem darurat dalam penangganan COVID-19 dengan memberlakukan kembali PSBB seperti awal wabah ini melanda Indonesia.

Beberapa alasan disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, diantaranya yaitu terjadinya lonjakan kasus positif virus corona di Jakarta. Penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Jakarta pada bulan September saja mencapai 25% dari total kasus.

"Dalam 12 hari terakhir kemarin menyumbangkan 25% kasus positif," ujar Anies saat konferensi pers di Balai Kota, Minggu (13/09/2020).

Selain itu, jika dibiarkan terus maka kapasitas tempat tidur dan ruang rawat sejumlah rumah sakit (RS) khusus penanganan COVID-19 akan habis. Saat ini sudah melebihi ambang batas kerawanan sebesar 80 persen dari ketersediaan, walau Jakarta memiliki fasilitas kesehatan yang besar dengan 67 RS rujukan dan jumlah dokter yang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.

Ketidakdisiplinan masyarakat menjadi penyebab utama meningkatnya kasus hingga kini. Relaksasi atau pelonggaran PSBB yang dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka penyelamatan sektor ekonomi. Relaksasi ini agar ekonomi masyarakat bergerak kembali untuk menghindari jurang resesi. Namun, masyarakat abai terhadap protokol kesehatan dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19. Berbuat dan bertindak layaknya sebelum ada wabah pandemi virus corona, bukannya new normal tetapi back to normal!

Peningkatan kasus saat ini dianggap sebagai second wave atau gelombang kedua, padahal gelombang pertama saja belum melandai. Hal ini yang perlu diwaspadai akan menjadi bom waktu virus corona di Indonesia.


Bom Waktu Virus Corona?

Apakah ini tanda-tanda bom waktu virus corona di Indonesia, atau malah bom itu sudah meledak sedikit demi sedikit dan akan semakin besar? Apalagi tes virus corona yang dilakukan terhadap penduduk Indonesia masih rendah. Indonesia menurut laman worldometers.info baru mencapai 0,98 persen yang dilakukan tes virus corona. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 273 juta jiwa lebih.

Bandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura yang mencapai 38,99 persen, Malaysia 4,24 persen, dan Philipina mencapai 2,84 persen dari populasi penduduknya. Amerika Serikat dan China saja yang memiliki penduduk lebih besar dari Indonesia sudah mencapai masing-masing 28,17 persen dan 11,12 persen. Lihat tabel berikut ini:


Apalagi bila membandingkan dengan persyaratan badan kesehatan dunia WHO, yaitu 1 orang per 1.000 penduduk per minggu. Dari tes yang dilakukan terhadap per 1 juta penduduk, Indonesia berada di urutan 163 dari 215 negara. Indonesia hanya melakukan 9,750 tes per 1 juta penduduk.

Brazil dengan berpenduduk 212,8 juta jiwa telah melakukan 68,143 tes per satu juta penduduknya. Philipina dengan penduduk 221,7 juta jiwa telah melakukan 13,750 tes per satu juta. Pemerintah harus mengejar ketertinggalan dalam melakukan tes ini untuk mendapatkan angka real kasus terkonfirmasi virus corona di Indonesia.

Bila tidak, apa yang ditakutkan oleh negara jiran bisa saja terjadi. Dikutip dari cnbcindonesia.com (09/04/2020), seorang dokter Malaysia bernama Musa Mohd Nordin khawatir. Ia menyebut Indonesia sebagai bom waktu bagi wabah virus corona.

"Saya khawatir dengan Indonesia. Indonesia adalah bom waktu. Kami tidak mengerti lagi," katanya kepada Astro AWANI, channel berita Malaysia, beberapa waktu lalu.

Akhirnya kini, beberapa negara telah mengeluarkan peringatan bagi warganya untuk tidak berkunjung ke Indonesia. Amerika Serikat melalui Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) sudah menyatakan itu. Malaysia juga melarang beberapa negara untuk masuk ke wilayahnya, termasuk Indonesia. Sedikitnya ada 59 negara telah melarang warga Indonesia memasuki negaranya, dikutip tempo.co (08/09/2020).

Alasan mengapa akhirnya banyak negara yang melarang warga negara mereka mengunjungi Indonesia. Salah satunya dilihat dari grafik kasus virus corona, belum menunjukkan penurunan jumlah kasus sama sekali.

"Kalau dilihat di grafik, hanya Indonesia dan India yang belum menunjukkan penurunan jumlah kasus, bahkan angka kematian Indonesia melebihi angka kematian global. Ini cukup mengerikan bagi negara lain," ungkap dr Masdalina Pane dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), dilansir detik.com (09/09/2020).

Selain itu, Pane menjelaskan bahwa  upaya pengendalian yang dilakukan di Indonesia sama sekali tidak memenuhi kaidah-kaidah standar dalam epidemiologi. 


Jangan Alasan Ekonomi!

Ekonomi memang penting, geliat ekonomi untuk kebutuhan pokok sangatlah penting. Namun bila abai dengan kesehatan tentunya sangat berbahaya juga. Bila penyebaran dan kasus COIVD-19 tidak terkendali, bagaimana akan mempertahankan ekonominya lagi? 

Sudah disampaikan di atas, melonjaknya kasus terkonfirmasi positif virus corana akibat dari tidak disiplinnya masyarakat Indonesia. Relaksasi PSBB justru meningkatkan kasus tersebut, relaksasi dimanfaatkan banyak masyarakat Indonesia untuk melakukan kegiatan seperti belum ada wabah. Mudik, berwisata, dan bekerja tanpa memperhatikan protokol kesehatan.

Resesi ekonomi sudah di depan mata. Gangguan sektor kesehatan yang tidak pulih-pulih akan semakin menjatuhkan ekonomi semakin dalam. Resesi dapat terjadi secara berkepanjangan. Akhirnya, berdampak terhadap seluruh sektor kehidupan masyarakat Indonesia.

Ayo, jangan karena alasan ekonomi namun abai dengan kesehatan! Silahkan beraktivitas mencari rezeki buat keluarga, namun perhatikan kesehatan. Taat dengan protokol kesehatan, 3M. Menggunakan masker, Menjaga jarak, dan Mencuci tangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

close